A. Pengertian Ontologi
ontologi ilmu
pengetahuan – Ontologi dalam bahasa Inggris “ontology”; dari bahasa
Yunani on, ontos (ada, keberadaan) dan logos (studi, ilmu
tentang). Ada beberapa pengertian dasar mengenai apa itu “ontology”[3].
Ontologi merupakan
studi tentang ciri-ciri “esensial” dari ‘Yang Ada’ dalam dirinya
sendiri yang berbeda dari studi tentang hal-hal yang ada secara khusus. Dalam
mempelajari ‘Yang Ada’ dalam bentuknya yang sangat abstrak studi
tersebut melontarkan pertanyaan seperti “Apa itu Ada dalam dirinya sendiri?”
Ontologi termasuk cabang
Filsafat yang membahas mengenai
sifat (wujud) atau lebih sempit lagi sifat fenomena yang ingin kita ketahui.[4] Juga, Ontologi bisa mengandung pengertian sebuah cabang filsafat yang
menggeluti tata dan struktur realitas dalam arti seluas mungkin, yang
menggunakan katagori-katagori seperti: ada atau menjadi, aktualitas atau
potensialitas, esensi, keniscayaan dasar, Yang Ada sebagai Yang Ada.
Ontologi mencoba
melukiskan hakikat Ada yang terakhir, ini menunjukan bahwa segala hal
tergantung padanya bagi eksistensinya. Ontologi juga mengandung pengertian
sebagai cabang filsafat yang melontarkan pertanyaan, apa arti Ada dan Berada
dan juga menganalisis bermacam-macam makna yang memungkinkan hal-hal dapat
dikatakan Ada.
Dari beberapa
pengertian ontologi di atas, maka dapat diperoleh gambaran yang lebih jelas,
apa yang disebut dengan ontologi. Ontologi juga mengandung pengertian sebuah
cabang filsafat yang menyelidiki realitas yang menentukan apa yang kita sebut
realitas. Dari beberapa pengertian dasar tersebut bisa disimpulkan bahwa
ontologi mengandung pengertian “pengetahuan tentang yang Ada”.[5]
Pun, dapat dikatakan
bahwa antologi merupakan bagian dari filsafat ilmu yang membahas pandangan
terhadap hakikat ilmu atau pengetahuan ilmiah, termasuk pandangan terhadap sifat
ilmu itu sendiri.[6]
Istilah ontologi muncul
sekitar pertengahan abad ke-17. Pada waktu itu ungkapan filsafat mengenai yang
ada (philosophia entis) digunakan untuk hal yang sama. Menurut akar kata
Yunani, ontologi berarti ‘teori mengenai ada yang berada’[7]. Oleh sebab itu, orang bisa menggunakan ontologi
dengan filsafat pertama Aristoteles, yang kemudian disebut sebagai metafisika.
Namun pada kenyataannya, ontologi hanya merupakan bagian pertama metafisika,
yakni teori mengenai yang ada, yang berada secara terbatas sebagaimana adanya
dan apa yang secara hakiki dan secara langsung termasuk ada tersebut.
B. Dasar Ontologi Ilmu Pengetahuan
Berbeda dengan agama
atau bentuk pengetahuan yang lainnya, maka ilmu membatasi diri hanya kepada
kejadian yang bersifat empiris. Secara sederhana, objek kajian ilmu ada dalam
jangkauan pengalaman manusia. Objek kajian ilmu mencakup seluruh aspek
kehidupan yang dapat diuji oleh panca indera manusia. Dalam batas-batas
tersebut, maka ilmu mempelajari objek-objek empiris, seperti batu-batuan,
binatang, tumbuh-tumbuhan, hewan atau manusia itu sendiri. Berdasarkan hal itu,
maka ilmu-ilmu dapat disebut sebagai suatu pengetahuan empiris, di mana
objek-objek yang berbeda di luar jangkaun manusia tidak termasuk di dalam
bidang penelaahan keilmuan tersebut.
Untuk mendapatkan
pengetahuan ini, ilmu membuat beberapa asumsi mengenai objek-objek empiris.
Sebuah pengetahuan baru dianggap benar selama kita bisa menerima asumsi yang
dikemukakannya.
Secara lebih terperinci
ilmu mempunyai tiga asumsi yang dasar, yaitu:
1. Menganggap
objek-objek tertentu mempunyai keserupaan satu sama lain, umpamanya dalam hal
bentuk, struktur, sifat dan sebagainya.
2. Menganggap
bahwa suatu benda tidak mengalami perubahan dalam jangka waktu tertentu .
Kegiatan keilmuan bertujuan mempelajari tingkah laku suatu objek dalam suatu
keadaan tertentu.
Tiap gejala mempunyai
suatu hubungan pola-pola tertentu yang bersifat tetap dengan urutan kejadian
yang sama. Dalam pengertian ini, ilmu mempunyai sifat deterministik.
C. Pengertian Ilmu Pengetahuan
ontologi ilmu
pengetahuan – Agar kita mendapatkan pengertian tentang ilmu pengetahuan yang
luas, maka didalam mengkaji masalah tersebut menjadi:
- Pengertian Ilmu
Ilmu berasal dari
bahasa arab yaitu alima–ya’lamu–‘ilman dengan wazan fa’ala–yaf’alu–fi’lan
yang berarti mengerti, memahami benar-benar. Ilmu dalam kamus Indonesia adalah
pengetahuan suatu bidang yang disusun secara konsisten menurut metode-metode
tertentu, juga dapat digunakan untuk menerangkan gejala-gejala tertentu di
bidang (pengetahuan) itu.[9]
Al-Quran menggunakan
kata ‘ilm dalam berbagai bentuk dan artinya sebanyak 854 kali. Antara
lain sebagai “proses pencapaian pengetahuan dan objek pengetahuan” (QS 2:31-32)
Pembicaraan tentang ilmu mengantarkan kita kepada pembicaraan tentang
sumber-sumber ilmu di samping klasifikasi dan ragam disiplinnya.
Ilmu dalam bahasa
Inggris ‘science’, dari bahasa Latin ‘scientia’ (pengetahuan).
Sinonim yang paling akurat dalam bahasa Yunani adalah ‘ episteme’. Pada
prinsipnya ‘ilmu’ merupakan cabang pengetahuan yang mempunyai ciri-ciri
tertentu. Meskipun secara metodologis ilmu tidak membedakan antara ilmu sosial
dan ilmu alam, karena permasalahan-permasalahan teknis yang bersifat khas, maka
filsafat ilmu sering dibagi menjadi ‘filsafat ilmu alam’ dan filsafat ilmu
sosial.[10]
Ilmu merupakan
terjemahan dari kata science, yaitu pengetahuan yang rasional dan
didukung dengan bukti empiris, dalam bentuk yang baku. Dari segi
maknanya, pengertian ilmu sepanjang yang terbaca dalam pustaka menunjuk
sekurang-kurangnya tiga hal, yakni pengetahuan, aktivitas dan metode.
Diantara para filsuf dari berbagi aliran terdapat pemahaman umum bahwa ilmu
adalah sesuatu kumpulan yang sistematis dari pengetahuan (any systematic
body of knowledge)[11].
Porf. Dr. Ashley Montagu, guru besar
Antropologi pada Rutgers University menyimpulkan: “Science is a systemized
knowledge derived from observation, study and experimentation curried on order
to determine the nature of principles of what being studied.”
Ilmu adalah seluruh
usaha sadar untuk menyelidiki, menemukan dan meningkatkan pemahaman manusia
dari berbagai segi kenyataan dalam alam manusia. Segi-segi ini dibatasi agar
dihasilkan rumusan-rumusan yang pasti. Ilmu memberikan kepastian dengan
membatasi lingkup pandangannya, dan kepastian ilmu diperoleh dari
keterbatasannya.
Dari beberapa
pengertian ilmu yang di kemukakan, maka dapat diperoleh gambaran yang lebih
jelas, apa yang disebut dengan ilmu. Ilmu pada prinsipnya merupakan usaha untuk
mengorganisasikan dan mensistematisasikan common sense, suatu pengamatan
dalam kehidupan sehari-hari, namun dilanjutkan dengan suatu pemikiran secara
cermat dan teliti dengan menggunakan berbagai metode.
- Pengertian
pengetahuan pada ontologi ilmu pengetahuan
Pengetahuan merupakan
hasil proses dari usaha manusia untuk tahu. Drs. Sidi Gazalba,
mengemukakan bahwa pengetahuan ialah apa yang diketahui atau hasil pekerjaan
tahu. Pekerjaan tahu tersebut adalah hasil dari pada: kenal, sadar, insaf,
mengerti dan pandai. Pengertian itu semua milik atau isi pikiran.
Pengetahuan adalah
suatu istilah yang digunakan untuk menuturkan apabila sesorang mengenal tentang
sesuatu. Suatu hal yang menjadi pengetahuannya adalah selalu terdiri dari unsur
yang mengetahui dan yang diketahui serta kesadaran mengenai hal yang ingin
diketahuinya itu. Oleh karena itu, pengetahuan selalu menuntut tentang sesuatu
dan obyek yang merupakan sesuatu yang dihadapinya sebagai hal yang ingin
diketahuinya. Jadi, bisa dikatakan pengetahuan adalah hasil tahu manusia
terhadap sesuatu, atau segala perbuatan manusia untuk memahami suatu objek
tertentu.[12]
D. Sumber-sumber Ontologi Ilmu Pengetahuan
Setelah pengetahuan itu
sesuatu yang mungkin dan realistis, masalah yang dibahas dalam
literatur-literatur epistimologi Islam adalah masalah yang berkaitan dengan
sumber dan alat pengetahuan. Para filusuf Islam menyebutkan beberapa
sumber dan sekaligus alat pengetahuan, yaitu:
1. Alam tabi’at atau alam fisik
ontologi ilmu
pengetahuan – Contoh yang paling konkrit dari hubungan dengan materi dengan
cara yang sifatnya materi pula adalah aktivitas keseharian manusia di dunia
ini, seperti makan, minum, hubungan suami istri dan lain sebagianya. Dengan
demikian, alam tabi’at yang materi merupakan sumber pengetahuan yang
“barangkali” paling awal dan indra merupakan alat untuk berpengetahuan yang sumbernya
tabi’at.
Kaum sensualisme,
khususnya John Locke, menganggap bahwa pengetahuan yang sah dan
benar hanya lewat indra saja. Mereka mengatakan bahwa otak manusia ketika lahir
dalam keadaan kosong dari segala bentuk pengetahuan, kemudian melalui indra
realita-realita di luar tertanam dalam benak. Peranan akal hanya dua saja
yaitu, menyusun dan memilah serta meng-generalisasi.[13]
Jadi yang paling
berperan adalah indra. Pengetahuan yang murni lewat akal tanpa indra tidak ada.
Konskuensi dari pandangan ini adalah bahwa realita yang bukan materi atau yang
tidak dapat bersentuhan dengan indra, maka tidak dapat diketahui, sehingga pada
gilirannya mereka mengingkari hal-hal yang metafisik seperti Tuhan.
2. Alam Akal
Kaum Rasionalis, selain
alam tabi’at atau alam fisika, meyakini bahwa akal merupakan sumber
pengetahuan yang kedua dan sekaligus juga sebagai alat pengetahuan. Mereka
menganggap akal-lah yang sebenarnya menjadi alat pengetahuan sedangkan indra
hanya pembantu saja.
Aktivitas-aktivitas Akal:
1. Menarik
kesimpulan. Yang dimaksud dengan menarik kesimpulan adalah mengambil sebuah
hukum atas sebuah kasus tertentu dari hukum yang general. Aktivitas ini dalam
istilah logika disebut silogisme kategoris demonstratif.
2. Mengetahui
konsep-konsep yang general. Ada dua teori yang menjelaskan aktivitas akal ini, Pertama,
teori yang mengatakan bahwa akal terlebih dahulu menghilangkan ciri-ciri
yang khas dari beberapa person dan membiarkan titik-titik kesamaan
mereka. Teori ini disebut dengan teori tajrid dan intiza’. Kedua,
teori yang mangatakan bahwa pengetahuan akal tentang konsep yang general
melalui tiga tahapan, yaitu persentuhan indra dengan materi, perekaman benak,
dan generalisasi.
3. Pengelompokan
Wujud. Akal mempunyai kemampuan mengelompokkan segala yang ada di alam realita
ke beberapa kelompok.
4. Pemilahan
dan Penguraian.
5. Penggabungan
dan Penyusunan.
3. Analogi (Tamtsil)
Termasuk alat
pengetahuan manusia adalah analogi yang dalam terminologi fiqih disebut qiyas.
Analogi ialah menetapkan hukum (baca; predikat) atas sesuatu dengan hukum yang
telah ada pada sesuatu yang lain karena adanya kesamaan antara dua sesuatu itu.
Analogi tersusun dari beberapa unsur:
1)
Asal, yaitu kasus parsial yang telah diketahui hukumnya.
2)
Cabang, yaitu kasus parsial yang hendak diketahui hukumnya,
3)
Titik kesamaan antara asal dan cabang, dan
4. Hati dan Ilham (Wahyu)
Kaum empiris yang
memandang bahwa ada sama dengan materi sehingga sesuatu yang inmateri adalah
tidak ada, maka pengetahuan tentang in materi tidak mungkin ada. Sebaliknya
kaum Ilahi (theosopi) yang meyakini bahwa ada lebih luas dari sekedar
materi, mereka mayakini keberadaan hal-hal yang inmateri. Pengetahuan
tentangnya tidak mungkin lewat indra tetapi lewat akal atau hati.
Tentu yang dimaksud
dengan pengetahuan lewat hati di sini adalah penngetahuan tentang realita
inmateri eksternal, kalau yang internal seperti rasa sakit, sedih, senang,
lapar, haus dan hal-hal yang iintuitif lainnya diyakini keberadaannya oleh
semua orang tanpa kecuali.
Pengetahuan tentang
alam gaib yang dicapai manusia lewat hati jika berkenaan dengan pribadi
seseorang saja disebut ilham atau isyraq, dan jika berkaitan
dengan bimbingan umat manusia dan penyempurnaan jiwa mereka dengan syariat
disebut wahyu.[16]
E. Ruang Lingkup Ontologi Ilmu Pengetahuan
Secara ontologis, ilmu membatasi
lingkup penelaah keilmuannya hanya pada daerah-daerah yang berada dalam
jangkauan pengalaman manusia. Ilmu memulai penjelajahannya pada pengalaman
manusia dan berhenti di batas pengalaman manusia. Ilmu tidak mempelajari ikhwal
surga dan neraka. Sebab, ikhwal surga dan neraka berada diluar jangkauan
pengalaman manusia. Ilmu tidak mempelajari sebab musabab terciptanya manusia
sebab kejadian itu terjadi diluar jangkauan pengalamann manusia. Baik hal-hal
yang terjadi sebelum hidup kita, maupun hal-hal yang terjadi setelah kematian
manusia, semua itu berada di luar penjelajahan ilmu.
Ilmu hanya membatasi
daripada hal-hal yang berbeda dalam batas pengalaman kita karena fungsi ilmu
sendiri dalam hidup manusia yaitu sebagai alat bantu manusia dalam
menanggulangi masalah-masalah yang dihadapinya sehari-hari. Persoalan mengenai
hari kemudian tidak akan kita tanyakan pada ilmu, melainkan kepada agama. Sebab
agamalah pengetahuan yang mengkaji masalah-masalah seperti itu. Metode yang
dipergunakan dalam menyusun ilmu telah teruji kebenarannya secara empiris[17]. Dalam perkembangannya kemudian maka muncul banyak
cabang ilmu yang diakibatkan karena proses kemajuan dan penjelajahan ilmu yang
tidak pernah berhenti. Dari sinilah kemudian lahir konsep “kemajuan” dan
“modernisme” sebagai anak kandung dari cara kerja berpikir keilmuan[18].
F. Kriteria Ontologi Ilmu Pengetahuan
Dari definisi yang
diungkapkan di atas, kita dapat melihat bahwa sifat-sifat ilmu merupakan
kumpulan pengetahuan mengenai suatu bidang tertentu yakni:
- Berdiri secara
satu kesatuan.
- Tersusun secara sistematis.
- Ada dasar
pembenarannya (ada penjelasan yang dapat dipertanggung jawabkan disertai
sebab-sebabnya yang meliputi fakta dan data).
- Mendapat legalitas
bahwa ilmu tersebut hasil pengkajian atau riset.
- Communicable, ilmu dapat ditransfer kepada orang lain sehingga dapat dimengerti
dan dipahami maknanya.
- Universal, ilmu
tidak terbatas ruang dan waktu sehingga dapat berlaku di mana saja dan
kapan saja di seluruh alam semesta ini.
- Berkembang, ilmu
sebaiknya mampu mendorong pengetahuan-pengatahuan dan penemuan-penemuan
baru. Sehingga, manusia mampu menciptakan pemikiran-pemikiran yang lebih
berkembang dari sebelumnya.[19]
Demikian ulasan singkat
seputar ontologi ilmu pengetahuan, semoga bermanfaat.