Jumat, 09 Februari 2018

Sosiologi "Kelompok Sosial"

MAKALAH PENGANTAR SOSIOLOGI
“KELOMPOK SOSIAL”


Disusun Oleh:
1.      Nareswara Jati Kusuma          NIM F1D016022
2.      Abdul Mu’izz                          NIM F1D016023
3.      Amaliya Febriyanti                 NIM F1D016024
4.      Kharis Blessing Siregar           NIM F1D016025
5.      Nur Wasilah                            NIM F1D016026
6.      Riksa Noer Cahya                   NIM F1D016027
7.      Nindya Hera Pravicka             NIM F1D016028



JURUSAN ILMU POLITIK
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
2016
DAFTAR ISI
HALAMAN SAMPUL .................................................................................. i       
DAFTAR ISI ................................................................................................... ii
KATA PENGANTAR .................................................................................... iii
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang .................................................................................. 1         
B. Rumusan Masalah.............................................................................. 1      
C. Tujuan ................................................................................................ 2      
D. Manfaat ............................................................................................. 2      
BAB II PEMBAHASAN
A.  Pengertian Kelompok Sosial ............................................................ 3
B.  Ciri-Ciri Kelompok Sosial ............................................................... 4
C.  Macam-Macam Kelompok Sosial ................................................... 5
D.  Klasifikasi Kelompok Sosial ........................................................... 6
E.   Kelompok Sosial yang Tidak Teratur ............................................. 16
F.   Masyarakat Setempat ...................................................................... 15
G.  Dinamika Kelompok ....................................................................... 18
H.  Faktor Pembentukan Kelompok Sosial ........................................... 19
BAB III PENUTUP
A.  Kesimpulan ...................................................................................... 21
B.  Saran ................................................................................................ 21
DAFTAR PUSTAKA .................................................................................... 22






KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat, taufik, dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah sosiologi yang berjudul Kelompok Sosial dengan baik tanpa suatu halangan yang berarti. Tulisan ini disusun untuk menyelesaikan tugas mata kuliah Pengantar Sosiologi tahun akademik 2016. Terselesaikannya penulisan makalah ini tentu tidak lepas dari dukungan dan bantuan semua pihak, maka dari itu penulis menyampaikan terima kasih kepada seluruh pihak yang secara langsung maupun tidak langsung memberikan dukungan baik secara material maupun spiritual demi terselesaikannya makalah ini dengan tepat waktu.
Penulis menyadari bahwa tulisan ini masih jauh dari kesempurnaan, untuk itu segala kritik dan saran yang bersifat membangun senantiasa penulis harapkan demi kesempurnaan makalah ini. Semoga tulisan ini bermanfaat bagi kita semua dan dapat memberi manfaat bagi perkembangan ilmu pengetahuan dan sumbangan pembelajaran bagi penulis dan pembaca.

Purwokerto,    November 2016



Tim Penulis

 BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Dalam sosiologi mempelajari kelompok sosial dalam arti bentukbentuk kehidupan bersama sangat penting, karena kehidupan bersama manusia mendapat perwujudannya dalam kelompok-kelompok yang beraneka ragam dan tidak terhitung jumlahnya. Sejak lahir, seorang manusia telah mengenal kelompok sosialnya, yaitu keluarga. Ada perbedaan penting antara anak manusia dengan khewan. Anak khewan seperti ayam begitu menetas mereka berusaha mencari makan sendiri, akan tetapi anak manusia memerlukan pertolongan dan bimbingan dari manusia lain terutama orang tua dan saudara dekat di keluarganya.
Kelompok sosial di luar keluarga akan mempengaruhi cara berpikir, sikap, dan berperilaku seseorang setelah bersosialisasi dengan orang lain. Kelompok sosial akan mempengaruhi perkembangan kepribadian dan memainkan peranan penting dalam proses sosialisasi seseorang. Kelompok-kelompok sosial timbul karena manusia dengan sesamanya mengadakan hubungan yang langgeng untuk suatu tujuan atau kepentingan bersama. Manusia melalui pengalaman berkelompok dapat menghayati norma-norma budaya, memiliki nilai-nilai, tujuan, perasaan, dan sebagainya.

B.     Rumusan Masalah
1.       Apa pengertian kelompok sosial?
2.       Apa ciri-ciri kelompok sosial?
3.       Apa saja macam-macam kelompok sosial?
4.       Apa saja klasifikasi kelompok sosial?
5.       Bagaimana kelompok sosial yang tidak teratur?
6.       Bagaimana mengklasifikasikan komunitas dan bagaimana hubungannya dengan kelompok sosial?
7.       Apa maksud dari dinamika kelompok?
8.       Apa saja faktor pembentuk kelompok sosial?

C.    Tujuan
1.      Mengetahui kelompok sosial yang terbentuk dalam masyarakat.
2.      Meningkatkan pemahaman solidaritas mahasiswa dalam bermasyarakat.
3.      Mengetahui klasifikasi dan macam-macam kelompok sosial.
4.      Mengetahui dinamika kelompok yang terjadi di masyarakat.
5.      Memahami faktor-faktor pembentukan kelompok sosial.
6.      Memenuhi tugas mata kuliah Pengantar Sosiologi.

D.    Manfaat
1.      Meningkatkan kemampuan mahasiswa dalam memahami materi Kelompok Sosial dan mampu memilah realitas-realitas yang terjadi berdasarkan klasifikasi yang telah ditentukan.
2.      Meningkatkan keaktifan mahasiswa dalam proses belajar mengajar dan kerja sama dalam suatu kelompok.
3.      Pembelajaran menjadi lebih efektif dan efisien.
4.      Membantu mahasiswa mengimplementasikan materi Kelompok Sosial dalam kehidupan sehari-hari.










BAB II
PEMBAHASAN

A.    Pengertian Kelompok Sosial
Kelompok merupakan salah satu konsep yang penting dalam sosiologi. Ada beberapa pengertian yang menyangkut kelompok. Menurut Horton dan Chester (1987) kelompok mencakup banyak bentuk interaksi manusia. Hakekat keberadaan kelompok sosial bukanlah terletak pada kedekatan atau jarak fisik, melainkan pada kesadaran untuk berinteraksi. Kesadaran berinteraksi diperlukan oleh mereka untuk dapat menciptakan suatu kelompok, sedangkan kehadiran fisik kadang-kadang sama sekali tidak diperlukan. Banyak kelompok yang para anggotanya jarang sekali bertemu, namun mereka saling berinteraksi melalui surat menyurat, telepon, mass media, dan sebagainya.
Menurut Seorjono (2003) kelompok sosial adalah himpunan atau kesatuan manusia yang hidup bersama, oleh karena adanya hubungan antara mereka. Hubungan tersebut antara lain menyangkut hubungan timbal balik yang saling mempengaruhi dan juga suatu kesadaran untuk saling tolong-menolong. Suatu kelompok sosial adalah suatu kesatuan yang terdiri dari dua orang atau lebih dimana diantara mereka terjadi komunikasi dua arah atau timbal balik serta interaksi satu dengan yang lainnya. Jarak fisik yang dekat tidak menjadi ukuran karena belum tentu terjadi interaksi, tetapi pada kesadaran untuk berinteraksi. Kelompok sosial merupakan sekumpulan orang yang memiliki kesadaran keanggotaan dan saling berinteraksi, misalnya anak-anak sudah mulai bermain bersama, pengusaha-pengusaha mempunyai perhatian yang sama di pasar bursa atau di suatu tempat pertandingan. Pada saat itulah tercipta suatu kelompok walaupun waktunya singkat.
Sebaliknya, dalam sebuah kereta api atau bis yang penuh dengan penumpang belum tentu terbentuk suatu kelompok sosial, karena diantara para penumpangnya tidak terjadi suatu kesadaran untuk saling berinteraksi. Dalam kelompok sosial perlu dibedakan pengertian agregasi sosial dan kategori sosial. Agregasi sosial merupakan kumpulan orang dalam arti pengelompokan secara fisik tanpa mempersoalkan adanya komunikasi diantara mereka. Akan tetapi, suatu agregasi sosial dapat membentuk suatu kelompok sosial walaupun hanya untuk sementara apabila terjadi suatu komunikasi dan interaksi di antara mereka, misalnya dalam suatu bis yang penuh dengan penumpang, dalam perjalan supir terlalu cepat menjalankan bisnya sehingga penumpang merasa terganggu dan takut terjadi sesuatu atas sikap supir yang ugal-ugalan, kemudian penumpang secara berkelompok berusaha menegur supir agar menjalankan bisnya dengan hati-hati. Dalam hal ini, kesadaran berinteraksi para penumpang diperlukan untuk menciptakan suatu kelompok.
Adapun pengertian kategori sosial adalah sejumlah orang yang digolongkan atas dasar ciri-ciri tertentu tanpa mempersoalkan ada tidaknya komunikasi dan interaksi diantara mereka, yang dimaksud dengan kategori sosial adalah, jenis kelamin, umur, lapangan kerja, dan sebagainya. Suatu kelomok sosial dapat berjalan lama atau permanen, seperti keluarga, santri di pesantren, subak di Bali, dan sebagainya. Ada juga yang bersifat sementara, seperti penonton sepak bola, arisan, dan sebagainya. Faktor-faktor pembentukan kelompok sosial diantaranya adalah :
1.      Keturunan atau geneologi satu nenek moyang
2.      Tempat tinggal bersama atau teritorial
3.      Kepentingan bersama.

B.     Ciri-Ciri Kelompok Sosial
Berikut ini akan disebutkan beberapa ciri kelompok sosial.
1.       Terdapat dorongan atau motif yang sama antar individu satu dengan yang lain
2.       Terdapat akibat-akibat interaksi yang berlainan terhadap individu satu dengan yang lain berdasarkan rasa dan kecakapan yang berbeda-beda antara individu yang terlibat di dalamnya.
3.       Adanya penegasan dan pembentukan struktur atau organisasi kelompok yang jelas dan terdiri dari peranan-peranan dan kedudukan masing-masing
4.       Adanya peneguhan norma pedoman tingkah laku anggota kelompok yang mengatur interaksi dalam kegiatan anggota kelompok untuk mencapai tujuan yang ada.
5.       Berlangsungnya suatu kepentingan.
6.       Adanya pergerakan yang dinamik.
Adapun syarat kelompok sosial sebagai berikut.
1.      Setiap anggota kelompok tersebut harus sadar bahwa dia merupakan sebagian dari kelompok yang bersangkutan.
2.      Ada hubungan timbal balik antara anggota yang satu dengan anggota lainnya.
3.      Terdapat suatu faktor yang dimiliki bersama oleh anggota-anggota kelompok itu, sehingga hubungan antara mereka bertambah erat. Faktor tadi dapat merupakan nasib yang sama, kepentingan yang sama, tujuan yang sama, ideologi politik yang sama dan lain-lain.
4.      Berstruktur, berkaidah dan mempunyai pola perilaku.

C.    Macam-Macam Kelompok Sosial
Menurut Robert Bierstedt, kelompok memiliki banyak jenis dan dibedakan berdasarkan ada tidaknya organisasi, hubungan sosial antara kelompok, dan kesadaran jenis. Bierstedt kemudian membagi kelompok menjadi empat macam:
1.      Kelompok statistik, yaitu kelompok yang bukan organisasi, tidak memiliki hubungan sosial dan kesadaran jenis di antaranya. Contoh: Kelompok penduduk usia 10-15 tahun di sebuah kecamatan.
2.      Kelompok kemasyarakatan, yaitu kelompk yang memiliki persamaan tetapi tidak mempunyai organisasi dan hubungan sosial di antara anggotanya.
3.      Kelompok sosial, yaitu kelompok yang anggotanya memiliki kesadaran jenis dan berhubungan satu dengan yang lainnya, tetapi tidak terikat dalam ikatan organisasi. Contoh: Kelompok pertemuan, kerabat.
4.      Kelompok asosiasi, yaitu kelompok yang anggotanya mempunyai kesadaran jenis dan ada persamaan kepentingan pribadi maupun kepentingan bersama. Dalam asosiasi, para anggotanya melakukan hubungan sosial, kontak dan komunikasi, serta memiliki ikatan organisasi formal. Contoh: Negarasekolah.

D.    Klasifikasi Kelompok Sosial
1.         Berdasarkan Solidaritas Anggota
a.         Solidaritas Mekanik
Solidaritas mekanik adalah masyarakat/kelompok sosial yang didasarkan pada kesadaran kolektif, kebersamaan, dan hukum yang berlaku bersifat menekan. Dalam solidaritas mekanik ada totalitas kepercayaan dan sentimen-sentimen bersama yang ada pada masyarakat yang sama. Individualitas tidak berkembang karena kehidupan masyarakat lebih berorientasi pada konformitas (kepentingan bersama). Ciri khas dari solidaritas mekanik adalah solidaritas didasarkan pada tingkat homogenitas yang tinggi dalam kepercayaan, sentiment, dan kebersamaan mencapai kepentingan bersama.
Contoh: kelompok-kelompok adat yang ada di berbagai provinsi di Indonesia. Misalnya suku Baduy dalam di Banten, suku Anak Dalam di Jambi, dll.
b.        Solidaritas Organik
Solidaritas organik adalah masyarakat/kelompok sosial yang didasarkan pada saling ketergantungan antar anggota dan spesialisasi pembagian kerja dengan hukum yang berlaku bersifat restitutive (memulihkan). Dalam solidaritas organik motivasi anggotanya sebagian besar karena ingin mendapatkan upah atau gaji yang diterima sebagai imbalan atas peran sertanya dalam kelompok. Solidaritas organik muncul karena adanya pembagian kerja atau spesialisasi sehingga saling ketergantungan antar anggota sangat tinggi.
Contoh: petani menghasilkan makanan untuk memberi makan para pekerja pabrik yang memproduksi traktor, pada akhirnya, memungkinkan petani untuk menghasilkan lebih banyak hasil panen dengan traktor.
2.      Berdasarkan Erat Longgarnya Ikatan dalam Kelompok
a.         Gemeinschaft
Gemeinschaft adalah bentuk kehidupan bersama di mana anggota-anggotanya diikat oleh hubungan batin yang murni serta bersifat nyata dan organis. Kelompok paguyuban sering dikaitkan dengan masyarakat desa atau komunal dengan ciri-ciri adanya ikatan kebersamaan (kolektif) yang sangat kuat.
Ciri-ciri masyarakat gemeinschaft menurut F. Tonnies adalah sebagai berikut:
1)      Intimate, artinya hubungan menyeluruh yang mesra sekali.
2)      Private, artinya hubungan bersifat pribadi, yaitu khusus untuk beberapa orang saja.
3)      Exclusive, artinya hubungan tersebut hanyalah untuk kita dan tidak untuk orang-orang di luar kita.
Menurut F. Tonnies, di masyarakat selalu dijumpai salah satu dari tiga tipe paguyuban, yaitu:
1)      Gemeinschaft by blood, merupakan gemeinschaft yang berupa ikatan yang didasarkan pada ikatan darah atau keturunan. Contoh: Petemuan keluarga besar Sitompul di Bali
2)      Gemeinschaft of place, merupakan gemeinschaft yang terdiri atas orang-orang yang berdekatan tempat tinggalnya sehingga dapat saling menolong, misalnya RT dan RW.
3)      Gemeinschaft of mind, merupakan gemeinschaft yang terdiri atas orang-orang yang walaupun tidak memiliki hubungan darah ataupun tempat tinggalnya tidak berdekatan, tetapi mereka memiliki jiwa dan pikiran yang sama karena ideologi yang dianut sama. Misalnya: kelompok pengajian, partai politik, dan pergerakan mahasiswa.
b.      Gessellchaft
Gesellschaft adalah ikatan Untuk jangka waktu yang pendek, bersifat formal dan mekanis. Keanggotaan kelompok patembayan didasari oleh perhitungan yang bersifat rasional. Misalnya, untung rugi, peningkatan karier, prestasi, dan status sosial. Ikatan dalam kelompok relatif Ionggar, tetapi serba kompetitif atau bersaing dan sewaktu-waktu bias berhenti sebagai anggota kelompok.
Sebagai contoh bentuk patembayan adalah interaksi melalui internet. Hal ini disebabkan patembayan bersifat sebagai suatu bentuk yang ada dalam pikiran belaka. Selain itu, bentuk pengelompokan gesellschaf lebih dihubungkan pada masyarakat industrial yang sering diidentikkan dengan masyarakat kota.
Gemeinschaft
Gesellschaft
Adanya hubungan perasaan kasih sayang
Hubungan antaranggota bersifat formal
Adanya keinginan untuk meningkatkan kebersamaan
Memiliki orientasi ekonomi dan tidak kekal
Tidak suka menonjolkan diri
Memperhitungkan nilai guna (utilitarian)
Selalu memegang teguh adat lama yang konservatif
Lebih didasarkan pada kenyataan sosial
Terdapat ikatan batin yang kuat antaranggota
Hubungan antaranggota bersifat informal

3.      Berdasarkan Indentifikasi Diri
a.        In Group
In group adalah kelompok sosial di mana individu-individu mengidentifikasikan dirinya. Sikapnya memiliki faktor simpati dan perasaan dekat dengan anggota kelompoknya.
b.        Out group
Out group adalah kelompok sosial yang berada di luar in group. Sikapnya selalu ditandai dengan suatu kelainan dan sering ditandai antagonism (antipati).
Perasaan in group dan out group merupakan dasar suatu sikap yang dinamakan etnosentrisme. Anggota-anggota suatu kelompok sosial tertentu, sedikit banyaknya akan mempunyai kecenderungan yang menganggap bahwa segala sesuatu yang termasuk dalam kebiasaan-kebiasaan kelompoknya sendiri merupakan sesuatu yang terbaik apabila dibandingkan dengan kebìasaan-kebiasaan kelompok lainnya. Kecenderungan tersebut disebut etnosentrisme, yaitu suatu sikap untuk menilai unsur-unsur kebudayaan lain dengan mempergunakan ukuran-ukuran kebudayaan sendiri. Sikap etnosentris tersebut sering disamakan dengan sikap memercayai sesuatu, sehingga kadang-kadang sukar sekali bagi yang bersangkutan untuk mengubahnya, walaupun dia menyadari bahwa sikapnya salah. Sikap etnosentris disosialisasikan atau diajarkan kepada anggota kelompok sosial, sadar maupun tidak sadar, serentak dengan nilai-nilai kebudayaan yang lain.
Di dalam proses tersebut sering kali digunakan stereotip, yakni gambaran atau anggapan-anggapan yang bersifat mengejek terhadap suatu objek tertentu. Keadaan demikian sering kali dijumpai dalam sikap suatu kelompok etnis terhadap kelompok etnis Iainnya, misalnya golongan orang-orang berkulit putih terhadap orang-orang Negro di Amerika Serikat.
4.      Berdasarkan Hubungan Antaranggota
a.         Kelompok Primer
Kelompok primer (primary group) adalah kelompok social pertama, tempat individu saling mengenal, berinteraksi social, dan bekerja sama yang cukup erat. Contoh: keluarga, kekerabatan, dan pertemanan. Kelompok primer disebut juga face-to-face group, adalah kelompok social yang anggota-anggotanya sering berhadapan muka antara yang satu dengan yang lain. Peran kelompok primer dalam kehidupan manusia sangat penting dan mendasar karena dalam kelompok primer inilah individu pertama kali belajar mengenal diri dan lingkungannya. Melalui kelompok primer seseorang berkembang dan dididik sebagai mahluk sosial. Pada kelompok primer individu manusia mempelajari nilai-nilai dan norma-norma hidup bersama.
b.        Kelompok Sekunder
Kelompok sekunder (secondary group) adalah kelompok social kedua, tempat individu berhubungan social yang anggotanya cukup banyak sehingga interaksinya kurang intensif dan kurang erat. Contoh: organi-sasi politik, perhimpunan serikat pekerja, kelompok penggemar sepak bola, dsb. Hubungan antar anggota dalam kelompok sekunder lebih obyektif dan rasional, dan peran kelompok sekunder dalam kehidupan manusia ialah untuk mencapai tujuan tertentu secara bersama-sama.
Beberapa ciri perbedaan antara kelompok primer dengan kelompok sekunder adalah sebagai berikut:

Primer
Sekunder
Sifat hubungan
Informal
Akrab
Personal
Total
Formal
Kurang akrab
Impersonal Segmental
Orientasi
Hubungan sosial tidak langgeng
Azas manfaat tidak langgeng
Tujuan hubungan
Manusiawi (keakraban, rasa simpatik, dan kebersamaan)
Efesiensi (ada perhitungan untung rugi.
Jumlah individu
Kecil
Sedikit
Besar
Banyak

5.      Berdasarkan Sistem Hubungan
a.         Formal Group
Kelompok formal ialah suatu organisasi/kelompok yang memiliki struktur yang jelas, pembagian tugas yang jelas, serta tujuan yang ditetapkan secara jelas.Atau organisasi yang memiliki struktur (bagan yang menggambarkan hubungan-hubungan kerja, kekuasaan, wewenang dan tanggung jawab antara pejabat dalam suatu organisasi).Atau organisasi yang dengan sengaja direncanakan dan strukturnya secara jelas disusun.Organisasi formal harus memiliki tujuan atau sasaran. Tujuan ini merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi struktur organisasi yang akan dibuat.
Struktur organisasi (desain organisasi) dapat didefinisikan sebagai mekanisme-mekanisme formal dengan mana organisasi dikelola.Struktur organisasi menunjukan kerangka dan susunan perwujudan pola tetap hubungan-hubungan diantara fungsi-fungsi, bagian-bagian atau posisi-posisi, atau pun orang-orang yang menunjukan kedudukan, tugas wewenang dan tanggung jawab yang berbeda-beda dalam organisasi. Struktur ini mengandung unsur-unsur spesialis kerja, standarisasi, koordinasi, sentralisasi atau desentralisasi dalam pembuatan keputusan dan besaran (ukuran) satuan kerja.
Ada 3 Unsur pokok organisasi formal, yaitu :
-          Sistem kegiatan terkoordinasi
-           Kelompok orang
-          Kerjasama mencapai tujuan
Tiang dasar teori organisasi formal:
-          Pembagian kerja
-          Proses skalar (hirarki) dan fungsional (horizontal)
-          Struktur
-          Rentang kendali
b.        Informal Group
Organisasi Informal adalah kumpulan dari dua orang atau lebih yang telibat pada suatu aktifitas serta tujuan bersama yang tidak disadari.Keanggotaan pada organisasi-organisasi informal dapat dicapai baik secara sadar maupun tidak sadar, dan kerap kali sulit untuk menentukan waktu eksak seseorang menjadi anggota organisasi tersebut.Sifat eksak hubungan antar anggota dan bahkan tujuan organisasi yang bersangkutan tidak terspesifikasi. Contoh organisasi informal adalah pertemuan tidak resmi seperti makan malam bersama. Organisasi informal dapat dialihkan menjadi organisasi formal apabila hubungan didalamnya dan kegiatan yang dilakukan terstruktur dan terumuskan.
Organisasi Informal memiliki ciri-ciri :
-          Lepas
-          Fleksibel
-          Tidak terumuskan
-          Spontan
Keanggotaan pada organisasi-organisasi informal dapat dicapai baik secara sadar, maupun tidak sadar.Kerapkali sulit untuk menentukan waktu eksak seseorang menjadi anggota organisasi tersebut.Sifat eksak hubungan-hubungan antara para anggota, bahkan tujuan-tujuan organisasi yang bersangkutan tidak terspesifikasi. Contoh Organisasi Informal : Arisan ibu-ibu, orang-orang di kendaraan umum, sekumpulan penonton yang menyaksikan sepak bola.
6.      Berdasarkan Acuan Bersikap
a.        Membership Group
Membership group merupakan kelompok dimana setia orang secara fisik menjadi anggota kelompok tersebut. Ada kalanya seseorang tidak berkumpul dengan kelompoknya walaupun dia belum ke luar dari kelompok tersebut, misalnya pada informal group untuk membedakan  anggota atas dasar derajat interaksi maka dikemukakan istilah nominal group-member dan peripheral group-member. Seorang nominal group dianggap masih berinteraksi dengan  kelompok social yang bersangkutan tapi interaksinnya tidak intens. Perbedaan interaksi dapat menimbulkan sub-group (membentuk kelompok sendiri) ini dikarenakan factor kepentingan yang sama. Kelompok bukan anggota (non-membership) dapat dipecahkan dalam beberapa kategori, antara lain:
1)        Orang-orang dari membership group yang tidak memenuhi syarat, orang ini biasanya lebih mudah menyesuaikan diri dengan kelompok tersebut.
2)        Sikap terhadap keanggotaan kelompok, berdasarkan sikap terhadap kelompok tersebut. Misalnya ada yang bersikap masa bodah dan ada yang tibak ingin menjadi anggota-anggota.
3)        Kelompok terbuka atau tertutup.
4)        Kelompok yang tertutup biasanya keanggotaannya terbatas, sedangkan kelompok terbuka menginginkan anggota yang terus bertambah.
5)        Ukuran waktu bagi bukan anggota, menyangkut orang yang pernah menjadi anggota dan orang yang tidak mau menjadi anggota.
b.        Reference Group
Reference-group adalah kelompok social yang menjadi acuan bagi seseorang (bukan anggota kelompok) untuk membentuk pribadi dan perilakunya. Reference group dan membership group agak sulit dipisahkan. Misalnya seorang anggota partai politik yang juga sebagai anggota Dewan Perwakilan Rakyat. DPR itu sebagai membersip group baginya, akan tetapi jiwa dan jalan pikirannya terikat pada reference group-nya yaitu partainya. Robert K. Merton dengan menyebut beberapa hasil karya Harrold H. Kelley, Shibutani dan Ralp H. Tumer mengemukakan ada dua tipe umum reference group yakni tipe normative yang menentukan kepribadian seseorang, dan tipe perbandingan yang menjadi pegangan individu dalam menilai kepribadian.

E.     Kelompok Sosial yang Tidak Teratur
1.      Kerumunan (Crowd)
Kerumunan adalah sekelompok individu yang berkumpul secara kebetulan di suatu tempat pada waktu yang bersamaan. Ukuran utama adanya kerumunan adalah kehadiran orang-orang secara fisik. Sedikit banyaknya jumlah kerumunan adalah sejauh mata dapat melihat dan selama telingan dapat mendengarkannya. Kerumunan tersebut segera berakhir setelah orang-orangnya bubar. Oleh karena itu, kerumunan merupakan suatu kelompok sosial yang bersifat sementara (temporer).
Secara garis besar Kingsley Davis membedakan bentuk kerumunan menjadi:
a.       Kerumunan yang Berartikulasi dengan Struktur Sosial
1) Khalayak penonton atau pendengar formal (formal audiences), merupakan kerumunan yang mempunyai pusat perhatian dan tujuan yang sama. Misalnya, menonton film, mengikuti kampanye politik dan sebagainya.
2) Kelompok ekspresif yang telah direncanakan (planned expressive group), yaitu kerumunan yang pusat perhatiannya tidak begitu penting, akan tetapi mempunyai persamaan tujuan yang tersimpul dalam aktivitas kerumunan tersebut.
b.        Kerumunan yang Bersifat Sementara (Casual Crowd)
1)    Kumpulan yang kurang menyenangkan (inconvenient aggregations).  Misalnya, orang yang sedang antri tiket, orang-orang yang menunggu kereta.
2)    Kumpulan orang-orang yang sedang dalam keadaan panik (panic crowds), yaitu orang-orang yang bersama-sama berusaha untuk menyelamatkan diri dari bahaya. Dorongan dalam diri individu-individu yang berkerumun tersebut mempunyai kecenderungan untuk mempertinggi rasa panik. Misalnya, ada kebakaran dan gempa bumi.
3)    Kerumunan penonton (spectator crowds), yaitu kerumunan yang terjadi karena ingin melihat kejadian tertentu. Misalnya, ingin melihat korban lalu lintas.
c.        Kerumunan yang Berlawanan dengan Norma-Norma Hukum (Lawless Crowd)
1)    Kerumunan yang bertindak emosional (acting mobs), yaitu kerumunan yang bertujuan untuk mencapai tujuan tertentu dengan menggunakan kekuatan fisik yang bertentangan dengan norma-norma yang berlaku. Misalnya aksi demonstrasi dengan kekerasan.
2)    Kerumunan yang bersifat immoral (immoral crowds), yaitu kerumunan yang hampir sama dengan kelompok ekspresif. Bedanya adalah bertentangan dengan norma-norma masyarakat. Misalnya, orang-orang yang mabuk.
2.      Publik
Kerumunan adalah sekelompok individu yang berkumpul secara kebetulan di suatu tempat pada waktu yang bersamaan. Ukuran utama adanya kerumunan adalah kehadiran orang-orang secara fisik. Sedikit banyaknya jumlah kerumunan adalah sejauh mata dapat melihat dan selama telingan dapat mendengarkannya. Kerumunan tersebut segera berakhir setelah orang-orangnya bubar. Oleh karena itu, kerumunan merupakan suatu kelompok sosial yang bersifat sementara (temporer).

F.     Masyarakat Setempat (Community)
Masyarakat setempat adalah suatu masyarakat yang bertempat tinggal di suatu wilayah (dalam arti geografis) dengan batas-batas tertentu. Faktor utama yang menjadi dasarnya adalah interaksi yang lebih besar di antara anggota dibandingkan dengan interaksi penduduk di luar batas wilayahnya.
Secara garis besar masyarakat setempat berfungsi sebagai ukuran untuk menggaris bawahi kedekatan hubungan antara hubungan sosial dengan suatu wilayah geografis tertentu. Akan tetapi, tempat tinggal tertentu saja belum cukup untuk membentuk suatu masyarakat setempat. Hal ini masih dibutuhkan adanya perasaan komunitas (community sentiment).
Beberapa unsur komunitas adalah:
a.    Seperasaan
Unsur perasaan akibat seseorang berusaha untuk mengidentifikasikan dirinya dengan sebanyak mungkin orang dalam kelompok tersebut. Akibatnya, mereka dapat menyebutnya sebagai “kelompok kami” atau “perasaan kami”.
b.    Sepenanggunan
Setiap individu sadar akan peranannya dalam kelompok dan keadaan masyarakat sendiri memungkinkan peranannya dalam kelompok.
c.    Saling memerlukan
Individu yang bergabung dalam masyarakat setempat merasakan dirinya tergantung pada komunitas yang meliputi kebutuhan fisik maupun biologis.

Untuk mengklasifikasikan masyarakat setempat, dapat digunakan empat kriteria yang saling berhubungan, yaitu:
-          Jumlah penduduk
-          Luas, kekayaan, dan kepadatan penduduk
-          Fungsi-fungsi khusus masyarakat setempat terhadap seluruh masyarakat
-          Organisasi masyarakat yang bersangkutan

G.    Dinamika Kelompok
Pada umumnya setiap kelompok sosial mengalami suatu perkembangan bahkan perubahan, sebagai akibat dari proses formasi atau reformasi dari pola-pola dalam suatu kelomok karena adanya pengaruh dari luar. Perubahan terjadi karena adanya konflik antar individu dalam kelompok atau karena adanya konflik antar bagian kelompok sebagai akibat tidak adanya keseimbangan antara kekuatan-kekuatan dari dalam kelompok itu sendiri. Dalam dinamika kelompok terjadi suatu perubahan kelompok. Perubahan yang terjadi ada yang mempengaruhi strukur ada juga yang tidak mempengaruhi struktur masyarakat.
Perubahan struktur terjadi dalam suatu masyarakat karena adanya pergantian anggota, perubahan sitruasi, serta terjadi depresi disuatu bidang ekonomi dan sosial. Konflik antar kelompok terjadi karena adanya persaingan. Masalah dinamika kelompok berkaitan dengan gerak atau perilaku kolektif. Gejala tersebut merupakan suatu cara berpikir, merasa, dan beraksi suatu kolektivitas yang serta merta tidak berstruktur. Sebab-sebab suatu kolektiva menjadi agresif antara lain adalah
1. Frustasi jangka panjang
2. Tersinggung
3. Dirugikan
 4. Ada ancaman dari luar
 5. Diperlakukan tidak adil
 6. Terkena pada bidang kehidupan yang sensitif
 Kegunaan dari mempelajari ciri-ciri kelompok dalam uraian sebelumnya adalah untuk menelaah kelompok sosial masyarakat terutama dalam suatu masyarakat yang terlalu banyak menonjolkan salah satu jenis kelompok dalam kehidupan bersama, sehingga kehidupan bersama tidak lagi dirasakan berjalan secara harmonis, misal di Indonesia sering dijumpai adanya hubungan pekerjaan dalam lingkungan jabatan atau organisasi yang pada dasarnya bersifat hubungan sekunder, tetapi kurang dapat penyelesaian yang baik karena masih sering dirongrong oleh pertimbangan-pertimbangan yang bersifat primer yang berkaitan dengan keluarga atau daerah sehingga menimbulkan dinamika sosial ke arah reformasi agar warga diperlakukan adil dalam penyeleksian. Kegunaan mempelajari dinamika sosial adalah kita dapat mempelajari interaksi dalam kelompok sosial dan pemecahan permasalahan serta mengambil kesimpulan untuk mencapai pemahaman dan penanggulangan masalah-masalah kelompok sosial.

H.    Faktor Pembentukan Kelompok Sosial
Bergabung dengan sebuah kelompok merupakan sesuatu yang murni dari diri sendiri atau juga secara kebetulan. Misalnya, seseorang terlahir dalam keluarga tertentu. Namun, ada juga yang merupakan sebuah pilihan. Dua faktor utama yang tampaknya mengarahkan pilihan tersebut adalah kedekatan dan kesamaan.
1.      Kedekatan
 Pengaruh tingkat kedekatan, atau kedekatan geografis, terhadap keterlibatan seseorang dalam sebuah kelompok tidak bisa diukur. Kita membentuk kelompok bermain dengan orang-orang di sekitar kita. Kita bergabung dengan kelompok kegiatan sosial lokal. Kelompok tersusun atas individu-individu yang saling berinteraksi. Semakin dekat jarak geografis antara dua orang, semakin mungkin mereka saling melihat, berbicara, dan bersosialisasi. Singkatnya, kedekatan fisik meningkatkan peluang interaksi dan bentuk kegiatan bersama yang memungkinkan terbentuknya kelompok sosial. Jadi, kedekatan menumbuhkan interaksi, yang memainkan peranan penting terhadap terbentuknya kelompok pertemanan.
2.      Kesamaan
Pembentukan kelompok sosial tidak hanya tergantung pada kedekatan fisik, tetapi juga kesamaan di antara anggota-anggotanya. Sudah menjadi kebiasaan, orang lebih suka berhubungan dengan orang yang memiliki kesamaan dengan dirinya. Kesamaan yang dimaksud adalah kesamaan minat, kepercayaan, nilai, usia, tingkat intelejensi, atau karakter-karakter personal lain. Kesamaan juga merupakan faktor utama dalam memilih calon pasangan untuk membentuk kelompok sosial yang disebut keluarga.















BAB III
PENUTUP
A.       Kesimpulan
1.      Arti penting hidup berkelompok dalam kelompok sosial bahwa hidup berkelompok pada kelompok sosial sangat penting untuk mempermudah dalam memenuhi kebutuhan hidup. Manusia akan memerlukan bantuan orang lain dalam menjalani kehidupan sosial.
2.      Ciri-ciri kelompok sosial ada beberapa, yaitu satuan yang nyata dan dapat dibedakan dari kesatuan manusia yang lain, memiliki struktur sosial yang setiap anggotanya memiliki status dan peran tertentu, memiliki norma-norma yang mengatur di antara hubungan para anggotanya, memiliki kepentingan bersama, dan adanya interaksi dan komunikasi diantara para anggotanya.

B.       Saran
Adanya rasa sepenanggungan sesama anggota kelompok patut diimbangi dengan keterbukaan terhadap kelompok lain agar nantinya kita tidak akan bersifat terlalu fanatik pada kelompok sosial sendiri.










DAFTAR PUSTAKA

Ø  Mulyadi, Tedi, 2016.”Pengertian In Group dan Out Group”. 11 maret 2016. http://www.sridianti.com/pengertian-in-group-dan-out-group.html 
Ø  Prastya, Widyasari, 2012. “Membership Group dan Reference Group”. 3 Desember 2012. http://widyasemua.blogspot.co.id/2012/12/membership-group-dan-reference-group.html 

Tidak ada komentar: