MAKALAH PENGANTAR SOSIOLOGI
“KELOMPOK SOSIAL”
“KELOMPOK SOSIAL”
Disusun Oleh:
1.
Nareswara
Jati Kusuma NIM F1D016022
2.
Abdul
Mu’izz NIM
F1D016023
3.
Amaliya
Febriyanti NIM F1D016024
4.
Kharis
Blessing Siregar NIM F1D016025
5.
Nur
Wasilah NIM
F1D016026
6.
Riksa
Noer Cahya NIM F1D016027
7.
Nindya
Hera Pravicka NIM F1D016028
JURUSAN ILMU POLITIK
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
2016
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
2016
DAFTAR ISI
HALAMAN SAMPUL .................................................................................. i
DAFTAR ISI
...................................................................................................
ii
KATA PENGANTAR .................................................................................... iii
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang .................................................................................. 1
B. Rumusan Masalah.............................................................................. 1
C. Tujuan ................................................................................................ 2
D. Manfaat ............................................................................................. 2
BAB II PEMBAHASAN
A. Pengertian Kelompok Sosial
............................................................ 3
B. Ciri-Ciri Kelompok Sosial
............................................................... 4
C. Macam-Macam Kelompok Sosial
................................................... 5
D. Klasifikasi Kelompok Sosial
........................................................... 6
E.
Kelompok
Sosial yang Tidak Teratur ............................................. 16
F.
Masyarakat
Setempat ......................................................................
15
G. Dinamika Kelompok
....................................................................... 18
H. Faktor Pembentukan Kelompok Sosial
........................................... 19
BAB III PENUTUP
A. Kesimpulan
......................................................................................
21
B. Saran
................................................................................................
21
DAFTAR PUSTAKA ....................................................................................
22
KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah
melimpahkan rahmat, taufik, dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat
menyelesaikan makalah sosiologi yang berjudul Kelompok Sosial dengan
baik tanpa suatu halangan yang berarti. Tulisan ini disusun untuk menyelesaikan
tugas mata kuliah Pengantar Sosiologi tahun akademik 2016. Terselesaikannya
penulisan makalah ini tentu tidak lepas dari dukungan dan bantuan semua pihak,
maka dari itu penulis menyampaikan terima kasih kepada seluruh pihak yang
secara langsung maupun tidak langsung memberikan dukungan baik secara material
maupun spiritual demi terselesaikannya makalah ini dengan tepat waktu.
Penulis menyadari bahwa tulisan ini masih jauh dari
kesempurnaan, untuk itu segala kritik dan saran yang bersifat membangun
senantiasa penulis harapkan demi kesempurnaan makalah ini. Semoga tulisan ini
bermanfaat bagi kita semua dan dapat memberi manfaat bagi perkembangan ilmu
pengetahuan dan sumbangan pembelajaran bagi penulis dan pembaca.
Purwokerto, November
2016
Tim Penulis
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Dalam sosiologi mempelajari kelompok
sosial dalam arti bentukbentuk kehidupan bersama sangat penting, karena
kehidupan bersama manusia mendapat perwujudannya dalam kelompok-kelompok yang
beraneka ragam dan tidak terhitung jumlahnya. Sejak lahir, seorang manusia
telah mengenal kelompok sosialnya, yaitu keluarga. Ada perbedaan penting antara
anak manusia dengan khewan. Anak khewan seperti ayam begitu menetas mereka
berusaha mencari makan sendiri, akan tetapi anak manusia memerlukan pertolongan
dan bimbingan dari manusia lain terutama orang tua dan saudara dekat di
keluarganya.
Kelompok sosial di luar keluarga
akan mempengaruhi cara berpikir, sikap, dan berperilaku seseorang setelah
bersosialisasi dengan orang lain. Kelompok sosial akan mempengaruhi
perkembangan kepribadian dan memainkan peranan penting dalam proses sosialisasi
seseorang. Kelompok-kelompok sosial timbul karena manusia dengan sesamanya
mengadakan hubungan yang langgeng untuk suatu tujuan atau kepentingan bersama.
Manusia melalui pengalaman berkelompok dapat menghayati norma-norma budaya,
memiliki nilai-nilai, tujuan, perasaan, dan sebagainya.
B.
Rumusan Masalah
1.
Apa
pengertian kelompok sosial?
2.
Apa
ciri-ciri kelompok sosial?
3.
Apa
saja macam-macam kelompok sosial?
4.
Apa
saja klasifikasi kelompok sosial?
5.
Bagaimana
kelompok sosial yang tidak teratur?
6.
Bagaimana
mengklasifikasikan komunitas dan bagaimana hubungannya dengan kelompok sosial?
7.
Apa
maksud dari dinamika kelompok?
8.
Apa
saja faktor pembentuk kelompok sosial?
C.
Tujuan
1. Mengetahui kelompok sosial yang terbentuk dalam masyarakat.
2. Meningkatkan pemahaman solidaritas mahasiswa dalam bermasyarakat.
3. Mengetahui klasifikasi dan macam-macam kelompok sosial.
4. Mengetahui dinamika kelompok yang terjadi di masyarakat.
5. Memahami faktor-faktor pembentukan kelompok sosial.
6. Memenuhi tugas mata kuliah Pengantar Sosiologi.
D.
Manfaat
1. Meningkatkan kemampuan mahasiswa dalam memahami materi Kelompok
Sosial dan mampu memilah realitas-realitas yang terjadi berdasarkan klasifikasi
yang telah ditentukan.
2. Meningkatkan keaktifan mahasiswa dalam proses belajar mengajar dan
kerja sama dalam suatu kelompok.
3. Pembelajaran menjadi lebih efektif dan efisien.
4. Membantu mahasiswa mengimplementasikan materi Kelompok Sosial dalam
kehidupan sehari-hari.
BAB II
PEMBAHASAN
PEMBAHASAN
A.
Pengertian Kelompok Sosial
Kelompok merupakan salah satu konsep
yang penting dalam sosiologi. Ada beberapa pengertian yang menyangkut kelompok.
Menurut Horton dan Chester (1987) kelompok mencakup banyak bentuk interaksi
manusia. Hakekat keberadaan kelompok sosial bukanlah terletak pada kedekatan
atau jarak fisik, melainkan pada kesadaran untuk berinteraksi. Kesadaran
berinteraksi diperlukan oleh mereka untuk dapat menciptakan suatu kelompok,
sedangkan kehadiran fisik kadang-kadang sama sekali tidak diperlukan. Banyak
kelompok yang para anggotanya jarang sekali bertemu, namun mereka saling
berinteraksi melalui surat menyurat, telepon, mass media, dan sebagainya.
Menurut Seorjono (2003) kelompok
sosial adalah himpunan atau kesatuan manusia yang hidup bersama, oleh karena
adanya hubungan antara mereka. Hubungan tersebut antara lain menyangkut
hubungan timbal balik yang saling mempengaruhi dan juga suatu kesadaran untuk
saling tolong-menolong. Suatu kelompok sosial adalah suatu kesatuan yang
terdiri dari dua orang atau lebih dimana diantara mereka terjadi komunikasi dua
arah atau timbal balik serta interaksi satu dengan yang lainnya. Jarak fisik
yang dekat tidak menjadi ukuran karena belum tentu terjadi interaksi, tetapi
pada kesadaran untuk berinteraksi. Kelompok sosial merupakan sekumpulan orang
yang memiliki kesadaran keanggotaan dan saling berinteraksi, misalnya anak-anak
sudah mulai bermain bersama, pengusaha-pengusaha mempunyai perhatian yang sama
di pasar bursa atau di suatu tempat pertandingan. Pada saat itulah tercipta
suatu kelompok walaupun waktunya singkat.
Sebaliknya, dalam sebuah kereta api
atau bis yang penuh dengan penumpang belum tentu terbentuk suatu kelompok
sosial, karena diantara para penumpangnya tidak terjadi suatu kesadaran untuk
saling berinteraksi. Dalam kelompok sosial perlu dibedakan pengertian agregasi
sosial dan kategori sosial. Agregasi sosial merupakan kumpulan orang dalam arti
pengelompokan secara fisik tanpa mempersoalkan adanya komunikasi diantara
mereka. Akan tetapi, suatu agregasi sosial dapat membentuk suatu kelompok
sosial walaupun hanya untuk sementara apabila terjadi suatu komunikasi dan
interaksi di antara mereka, misalnya dalam suatu bis yang penuh dengan
penumpang, dalam perjalan supir terlalu cepat menjalankan bisnya sehingga
penumpang merasa terganggu dan takut terjadi sesuatu atas sikap supir yang
ugal-ugalan, kemudian penumpang secara berkelompok berusaha menegur supir agar
menjalankan bisnya dengan hati-hati. Dalam hal ini, kesadaran berinteraksi para
penumpang diperlukan untuk menciptakan suatu kelompok.
Adapun pengertian kategori sosial
adalah sejumlah orang yang digolongkan atas dasar ciri-ciri tertentu tanpa
mempersoalkan ada tidaknya komunikasi dan interaksi diantara mereka, yang
dimaksud dengan kategori sosial adalah, jenis kelamin, umur, lapangan kerja,
dan sebagainya. Suatu kelomok sosial dapat berjalan lama atau permanen, seperti
keluarga, santri di pesantren, subak di Bali, dan sebagainya. Ada juga yang
bersifat sementara, seperti penonton sepak bola, arisan, dan sebagainya.
Faktor-faktor pembentukan kelompok sosial diantaranya adalah :
1.
Keturunan
atau geneologi satu nenek moyang
2.
Tempat
tinggal bersama atau teritorial
3.
Kepentingan
bersama.
B.
Ciri-Ciri Kelompok Sosial
Berikut ini akan disebutkan beberapa ciri kelompok sosial.
1. Terdapat dorongan atau motif yang sama antar individu satu dengan
yang lain
2. Terdapat akibat-akibat interaksi yang berlainan terhadap individu
satu dengan yang lain berdasarkan rasa dan kecakapan yang berbeda-beda antara
individu yang terlibat di dalamnya.
3. Adanya penegasan dan pembentukan struktur atau organisasi kelompok
yang jelas dan terdiri dari peranan-peranan dan kedudukan masing-masing
4. Adanya peneguhan norma pedoman tingkah laku anggota kelompok yang
mengatur interaksi dalam kegiatan anggota kelompok untuk mencapai tujuan yang
ada.
5. Berlangsungnya suatu kepentingan.
6. Adanya pergerakan yang dinamik.
Adapun syarat kelompok sosial sebagai berikut.
1.
Setiap
anggota kelompok tersebut harus sadar bahwa dia merupakan sebagian dari
kelompok yang bersangkutan.
2.
Ada
hubungan timbal balik antara anggota yang satu dengan anggota lainnya.
3.
Terdapat
suatu faktor yang dimiliki bersama oleh anggota-anggota kelompok itu, sehingga
hubungan antara mereka bertambah erat. Faktor tadi dapat merupakan nasib yang
sama, kepentingan yang sama, tujuan yang sama, ideologi politik yang sama dan
lain-lain.
4.
Berstruktur,
berkaidah dan mempunyai pola perilaku.
C.
Macam-Macam Kelompok Sosial
Menurut Robert Bierstedt, kelompok memiliki banyak jenis dan dibedakan berdasarkan ada tidaknya
organisasi, hubungan sosial antara kelompok, dan kesadaran jenis. Bierstedt
kemudian membagi kelompok menjadi empat macam:
1.
Kelompok statistik,
yaitu kelompok yang bukan organisasi, tidak memiliki hubungan sosial dan kesadaran jenis di antaranya. Contoh:
Kelompok penduduk usia 10-15 tahun di sebuah kecamatan.
2.
Kelompok
kemasyarakatan, yaitu kelompk yang memiliki persamaan tetapi tidak mempunyai
organisasi dan hubungan sosial di antara anggotanya.
3.
Kelompok sosial, yaitu
kelompok yang anggotanya memiliki kesadaran jenis dan berhubungan satu dengan
yang lainnya, tetapi tidak terikat dalam ikatan organisasi. Contoh: Kelompok
pertemuan, kerabat.
4.
Kelompok asosiasi,
yaitu kelompok yang anggotanya mempunyai kesadaran jenis dan ada persamaan kepentingan
pribadi maupun kepentingan bersama. Dalam asosiasi, para anggotanya melakukan
hubungan sosial, kontak dan komunikasi, serta memiliki ikatan organisasi
formal. Contoh: Negara, sekolah.
D.
Klasifikasi Kelompok Sosial
1.
Berdasarkan
Solidaritas Anggota
a.
Solidaritas
Mekanik
Solidaritas mekanik adalah masyarakat/kelompok
sosial yang didasarkan pada kesadaran kolektif, kebersamaan, dan hukum yang
berlaku bersifat menekan. Dalam solidaritas mekanik ada totalitas kepercayaan
dan sentimen-sentimen bersama yang ada pada masyarakat yang sama.
Individualitas tidak berkembang karena kehidupan masyarakat lebih berorientasi
pada konformitas (kepentingan bersama). Ciri khas dari solidaritas mekanik
adalah solidaritas didasarkan pada tingkat homogenitas yang tinggi dalam
kepercayaan, sentiment, dan kebersamaan mencapai kepentingan bersama.
Contoh: kelompok-kelompok adat yang ada di berbagai
provinsi di Indonesia. Misalnya suku Baduy dalam di Banten, suku Anak Dalam di
Jambi, dll.
b.
Solidaritas Organik
Solidaritas organik adalah masyarakat/kelompok
sosial yang didasarkan pada saling ketergantungan antar anggota dan
spesialisasi pembagian kerja dengan hukum yang berlaku bersifat restitutive
(memulihkan). Dalam solidaritas organik motivasi anggotanya sebagian besar
karena ingin mendapatkan upah atau gaji yang diterima sebagai imbalan atas
peran sertanya dalam kelompok. Solidaritas organik muncul karena adanya
pembagian kerja atau spesialisasi sehingga saling ketergantungan antar anggota
sangat tinggi.
Contoh: petani menghasilkan makanan untuk memberi
makan para pekerja pabrik yang memproduksi traktor, pada akhirnya, memungkinkan
petani untuk menghasilkan lebih banyak hasil panen dengan traktor.
2.
Berdasarkan Erat Longgarnya Ikatan dalam Kelompok
a.
Gemeinschaft
Gemeinschaft adalah bentuk kehidupan bersama di mana
anggota-anggotanya diikat oleh hubungan batin yang murni serta bersifat nyata
dan organis. Kelompok paguyuban sering dikaitkan dengan masyarakat desa atau
komunal dengan ciri-ciri adanya ikatan kebersamaan (kolektif) yang sangat kuat.
Ciri-ciri masyarakat gemeinschaft menurut F. Tonnies adalah sebagai
berikut:
1)
Intimate,
artinya hubungan menyeluruh yang mesra sekali.
2)
Private,
artinya hubungan bersifat pribadi, yaitu khusus untuk beberapa orang saja.
3)
Exclusive,
artinya hubungan tersebut hanyalah untuk kita dan tidak untuk orang-orang di
luar kita.
Menurut F.
Tonnies, di masyarakat selalu dijumpai salah satu dari tiga tipe paguyuban,
yaitu:
1)
Gemeinschaft
by blood, merupakan gemeinschaft yang berupa
ikatan yang didasarkan pada ikatan darah atau keturunan. Contoh: Petemuan
keluarga besar Sitompul di Bali
2)
Gemeinschaft
of place, merupakan gemeinschaft yang
terdiri atas orang-orang yang berdekatan tempat tinggalnya sehingga dapat
saling menolong, misalnya RT dan RW.
3)
Gemeinschaft
of mind, merupakan gemeinschaft yang terdiri
atas orang-orang yang walaupun tidak memiliki hubungan darah ataupun tempat tinggalnya
tidak berdekatan, tetapi mereka memiliki jiwa dan pikiran yang sama karena
ideologi yang dianut sama. Misalnya: kelompok pengajian, partai politik, dan
pergerakan mahasiswa.
b.
Gessellchaft
Gesellschaft adalah ikatan Untuk jangka waktu yang pendek, bersifat
formal dan mekanis. Keanggotaan kelompok patembayan didasari oleh perhitungan
yang bersifat rasional. Misalnya, untung rugi, peningkatan karier, prestasi,
dan status sosial. Ikatan dalam kelompok relatif Ionggar, tetapi serba
kompetitif atau bersaing dan sewaktu-waktu bias berhenti sebagai anggota
kelompok.
Sebagai contoh bentuk patembayan adalah interaksi melalui internet.
Hal ini disebabkan patembayan bersifat sebagai suatu bentuk yang ada dalam
pikiran belaka. Selain itu, bentuk pengelompokan gesellschaf lebih dihubungkan
pada masyarakat industrial yang sering diidentikkan dengan masyarakat kota.
Gemeinschaft
|
Gesellschaft
|
Adanya hubungan perasaan kasih sayang
|
Hubungan antaranggota bersifat formal
|
Adanya keinginan untuk meningkatkan kebersamaan
|
Memiliki orientasi ekonomi dan tidak kekal
|
Tidak suka menonjolkan diri
|
Memperhitungkan nilai guna (utilitarian)
|
Selalu memegang teguh adat lama yang konservatif
|
Lebih didasarkan pada kenyataan sosial
|
Terdapat ikatan batin yang kuat antaranggota
|
|
Hubungan antaranggota bersifat informal
|
3.
Berdasarkan Indentifikasi Diri
a.
In Group
In group adalah kelompok sosial di mana individu-individu
mengidentifikasikan dirinya. Sikapnya memiliki faktor simpati dan perasaan
dekat dengan anggota kelompoknya.
b.
Out group
Out group adalah kelompok sosial yang berada di luar in group.
Sikapnya selalu ditandai dengan suatu kelainan dan sering ditandai antagonism
(antipati).
Perasaan in
group dan out group merupakan dasar suatu sikap yang dinamakan etnosentrisme.
Anggota-anggota suatu kelompok sosial tertentu, sedikit banyaknya akan
mempunyai kecenderungan yang menganggap bahwa segala sesuatu yang termasuk
dalam kebiasaan-kebiasaan kelompoknya sendiri merupakan sesuatu yang terbaik
apabila dibandingkan dengan kebìasaan-kebiasaan kelompok lainnya. Kecenderungan tersebut disebut etnosentrisme,
yaitu suatu sikap untuk menilai unsur-unsur kebudayaan lain dengan
mempergunakan ukuran-ukuran kebudayaan sendiri. Sikap etnosentris tersebut
sering disamakan dengan sikap memercayai sesuatu, sehingga kadang-kadang sukar
sekali bagi yang bersangkutan untuk mengubahnya, walaupun dia menyadari bahwa
sikapnya salah. Sikap etnosentris disosialisasikan atau diajarkan kepada
anggota kelompok sosial, sadar maupun tidak sadar, serentak dengan nilai-nilai
kebudayaan yang lain.
Di dalam proses
tersebut sering kali digunakan stereotip, yakni gambaran atau anggapan-anggapan
yang bersifat mengejek terhadap suatu objek tertentu. Keadaan demikian sering
kali dijumpai dalam sikap suatu kelompok etnis terhadap kelompok etnis Iainnya,
misalnya golongan orang-orang berkulit putih terhadap orang-orang Negro di
Amerika Serikat.
4.
Berdasarkan Hubungan Antaranggota
a.
Kelompok Primer
Kelompok primer (primary group) adalah
kelompok social pertama, tempat individu saling mengenal, berinteraksi social,
dan bekerja sama yang cukup erat. Contoh: keluarga, kekerabatan, dan
pertemanan. Kelompok primer disebut juga face-to-face group, adalah
kelompok social yang anggota-anggotanya sering berhadapan muka antara yang satu
dengan yang lain. Peran kelompok primer dalam kehidupan manusia sangat penting
dan mendasar karena dalam kelompok primer inilah individu pertama kali belajar
mengenal diri dan lingkungannya. Melalui kelompok primer seseorang berkembang
dan dididik sebagai mahluk sosial. Pada kelompok primer individu manusia
mempelajari nilai-nilai dan norma-norma hidup bersama.
b.
Kelompok Sekunder
Kelompok sekunder (secondary group) adalah
kelompok social kedua, tempat individu berhubungan social yang anggotanya cukup
banyak sehingga interaksinya kurang intensif dan kurang erat. Contoh:
organi-sasi politik, perhimpunan serikat pekerja, kelompok penggemar sepak
bola, dsb. Hubungan antar anggota dalam kelompok sekunder lebih obyektif dan
rasional, dan peran kelompok sekunder dalam kehidupan manusia ialah untuk
mencapai tujuan tertentu secara bersama-sama.
Beberapa ciri perbedaan antara kelompok primer dengan kelompok
sekunder adalah sebagai berikut:
Primer
|
Sekunder
|
|
Sifat hubungan
|
Informal
Akrab
Personal
Total
|
Formal
Kurang akrab
Impersonal Segmental
|
Orientasi
|
Hubungan sosial tidak langgeng
|
Azas manfaat tidak langgeng
|
Tujuan hubungan
|
Manusiawi (keakraban, rasa simpatik, dan kebersamaan)
|
Efesiensi (ada perhitungan untung rugi.
|
Jumlah individu
|
Kecil
Sedikit
|
Besar
Banyak
|
5.
Berdasarkan Sistem Hubungan
a.
Formal Group
Kelompok formal ialah suatu organisasi/kelompok yang memiliki
struktur yang jelas, pembagian tugas yang jelas, serta tujuan yang ditetapkan
secara jelas.Atau organisasi yang memiliki struktur (bagan yang menggambarkan
hubungan-hubungan kerja, kekuasaan, wewenang dan tanggung jawab antara pejabat
dalam suatu organisasi).Atau organisasi yang dengan sengaja direncanakan dan
strukturnya secara jelas disusun.Organisasi formal harus memiliki tujuan atau
sasaran. Tujuan ini merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi struktur
organisasi yang akan dibuat.
Struktur organisasi (desain organisasi) dapat didefinisikan sebagai
mekanisme-mekanisme formal dengan mana organisasi dikelola.Struktur organisasi
menunjukan kerangka dan susunan perwujudan pola tetap hubungan-hubungan
diantara fungsi-fungsi, bagian-bagian atau posisi-posisi, atau pun orang-orang
yang menunjukan kedudukan, tugas wewenang dan tanggung jawab yang berbeda-beda
dalam organisasi. Struktur ini mengandung unsur-unsur spesialis kerja,
standarisasi, koordinasi, sentralisasi atau desentralisasi dalam pembuatan
keputusan dan besaran (ukuran) satuan kerja.
Ada 3 Unsur pokok organisasi formal, yaitu :
-
Sistem
kegiatan terkoordinasi
-
Kelompok
orang
-
Kerjasama
mencapai tujuan
Tiang dasar teori organisasi formal:
-
Pembagian
kerja
-
Proses
skalar (hirarki) dan fungsional (horizontal)
-
Struktur
-
Rentang
kendali
b.
Informal Group
Organisasi Informal adalah kumpulan dari dua orang atau lebih yang
telibat pada suatu aktifitas serta tujuan bersama yang tidak
disadari.Keanggotaan pada organisasi-organisasi informal dapat dicapai baik
secara sadar maupun tidak sadar, dan kerap kali sulit untuk menentukan waktu
eksak seseorang menjadi anggota organisasi tersebut.Sifat eksak hubungan antar
anggota dan bahkan tujuan organisasi yang bersangkutan tidak terspesifikasi.
Contoh organisasi informal adalah pertemuan tidak resmi seperti makan malam
bersama. Organisasi informal dapat dialihkan menjadi organisasi formal apabila
hubungan didalamnya dan kegiatan yang dilakukan terstruktur dan terumuskan.
Organisasi Informal memiliki ciri-ciri :
-
Lepas
-
Fleksibel
-
Tidak
terumuskan
-
Spontan
Keanggotaan
pada organisasi-organisasi informal dapat dicapai baik secara sadar, maupun
tidak sadar.Kerapkali sulit untuk menentukan waktu eksak seseorang menjadi anggota
organisasi tersebut.Sifat eksak hubungan-hubungan antara para anggota, bahkan
tujuan-tujuan organisasi yang bersangkutan tidak terspesifikasi. Contoh
Organisasi Informal : Arisan ibu-ibu, orang-orang di kendaraan umum, sekumpulan
penonton yang menyaksikan sepak bola.
6.
Berdasarkan Acuan Bersikap
a.
Membership Group
Membership group merupakan kelompok dimana setia orang secara fisik
menjadi anggota kelompok tersebut. Ada kalanya seseorang tidak berkumpul dengan
kelompoknya walaupun dia belum ke luar dari kelompok tersebut, misalnya pada
informal group untuk membedakan anggota
atas dasar derajat interaksi maka dikemukakan istilah nominal group-member dan
peripheral group-member. Seorang nominal group dianggap masih berinteraksi
dengan kelompok social yang bersangkutan
tapi interaksinnya tidak intens. Perbedaan interaksi dapat menimbulkan
sub-group (membentuk kelompok sendiri) ini dikarenakan factor kepentingan yang
sama. Kelompok bukan anggota (non-membership) dapat dipecahkan dalam beberapa
kategori, antara lain:
1)
Orang-orang
dari membership group yang tidak memenuhi syarat, orang ini biasanya lebih
mudah menyesuaikan diri dengan kelompok tersebut.
2)
Sikap
terhadap keanggotaan kelompok, berdasarkan sikap terhadap kelompok tersebut.
Misalnya ada yang bersikap masa bodah dan ada yang tibak ingin menjadi
anggota-anggota.
3)
Kelompok
terbuka atau tertutup.
4)
Kelompok
yang tertutup biasanya keanggotaannya terbatas, sedangkan kelompok terbuka
menginginkan anggota yang terus bertambah.
5)
Ukuran
waktu bagi bukan anggota, menyangkut orang yang pernah menjadi anggota dan
orang yang tidak mau menjadi anggota.
b.
Reference Group
Reference-group adalah kelompok social yang menjadi acuan bagi
seseorang (bukan anggota kelompok) untuk membentuk pribadi dan perilakunya.
Reference group dan membership group agak sulit dipisahkan. Misalnya seorang
anggota partai politik yang juga sebagai anggota Dewan Perwakilan Rakyat. DPR
itu sebagai membersip group baginya, akan tetapi jiwa dan jalan pikirannya
terikat pada reference group-nya yaitu partainya. Robert K. Merton dengan
menyebut beberapa hasil karya Harrold H. Kelley, Shibutani dan Ralp H. Tumer
mengemukakan ada dua tipe umum reference group yakni tipe normative yang
menentukan kepribadian seseorang, dan tipe perbandingan yang menjadi pegangan
individu dalam menilai kepribadian.
E.
Kelompok Sosial yang Tidak Teratur
1.
Kerumunan
(Crowd)
Kerumunan adalah sekelompok individu yang berkumpul secara
kebetulan di suatu tempat pada waktu yang bersamaan. Ukuran utama adanya
kerumunan adalah kehadiran orang-orang secara fisik. Sedikit banyaknya jumlah
kerumunan adalah sejauh mata dapat melihat dan selama telingan dapat
mendengarkannya. Kerumunan tersebut segera berakhir setelah orang-orangnya
bubar. Oleh karena itu, kerumunan merupakan suatu kelompok sosial yang bersifat
sementara (temporer).
Secara garis besar Kingsley Davis membedakan bentuk kerumunan
menjadi:
a.
Kerumunan
yang Berartikulasi dengan Struktur Sosial
1)
Khalayak penonton atau pendengar formal (formal audiences), merupakan
kerumunan yang mempunyai pusat perhatian dan tujuan yang sama. Misalnya,
menonton film, mengikuti kampanye politik dan sebagainya.
2) Kelompok
ekspresif yang telah direncanakan (planned expressive group), yaitu
kerumunan yang pusat perhatiannya tidak begitu penting, akan tetapi mempunyai
persamaan tujuan yang tersimpul dalam aktivitas kerumunan tersebut.
b.
Kerumunan yang Bersifat Sementara (Casual Crowd)
1)
Kumpulan yang kurang menyenangkan (inconvenient aggregations).
Misalnya, orang yang sedang antri tiket, orang-orang yang menunggu kereta.
2)
Kumpulan orang-orang yang sedang dalam keadaan panik (panic
crowds), yaitu orang-orang yang bersama-sama berusaha untuk
menyelamatkan diri dari bahaya. Dorongan dalam diri individu-individu yang
berkerumun tersebut mempunyai kecenderungan untuk mempertinggi rasa panik.
Misalnya, ada kebakaran dan gempa bumi.
3)
Kerumunan penonton (spectator crowds), yaitu kerumunan
yang terjadi karena ingin melihat kejadian tertentu. Misalnya, ingin melihat
korban lalu lintas.
c.
Kerumunan yang Berlawanan dengan Norma-Norma Hukum (Lawless
Crowd)
1)
Kerumunan yang bertindak emosional (acting mobs), yaitu kerumunan yang
bertujuan untuk mencapai tujuan tertentu dengan menggunakan kekuatan fisik yang
bertentangan dengan norma-norma yang berlaku. Misalnya aksi demonstrasi dengan
kekerasan.
2)
Kerumunan yang bersifat immoral (immoral crowds), yaitu kerumunan
yang hampir sama dengan kelompok ekspresif. Bedanya adalah bertentangan dengan
norma-norma masyarakat. Misalnya, orang-orang yang mabuk.
2.
Publik
Kerumunan adalah sekelompok individu yang berkumpul secara
kebetulan di suatu tempat pada waktu yang bersamaan. Ukuran utama adanya
kerumunan adalah kehadiran orang-orang secara fisik. Sedikit banyaknya jumlah
kerumunan adalah sejauh mata dapat melihat dan selama telingan dapat
mendengarkannya. Kerumunan tersebut segera berakhir setelah orang-orangnya
bubar. Oleh karena itu, kerumunan merupakan suatu kelompok sosial yang bersifat
sementara (temporer).
F.
Masyarakat Setempat (Community)
Masyarakat setempat adalah suatu masyarakat yang
bertempat tinggal di suatu wilayah (dalam arti geografis) dengan batas-batas
tertentu. Faktor utama yang menjadi dasarnya adalah interaksi yang lebih besar
di antara anggota dibandingkan dengan interaksi penduduk di luar batas
wilayahnya.
Secara garis besar masyarakat setempat berfungsi
sebagai ukuran untuk menggaris bawahi kedekatan hubungan antara hubungan sosial
dengan suatu wilayah geografis tertentu. Akan tetapi, tempat tinggal tertentu
saja belum cukup untuk membentuk suatu masyarakat setempat. Hal ini masih
dibutuhkan adanya perasaan komunitas (community sentiment).
Beberapa unsur komunitas adalah:
a.
Seperasaan
Unsur perasaan akibat seseorang berusaha untuk
mengidentifikasikan dirinya dengan sebanyak mungkin orang dalam kelompok
tersebut. Akibatnya, mereka dapat menyebutnya sebagai “kelompok kami” atau
“perasaan kami”.
b. Sepenanggunan
Setiap individu sadar akan peranannya dalam kelompok
dan keadaan masyarakat sendiri memungkinkan peranannya dalam kelompok.
c. Saling memerlukan
Individu yang bergabung dalam masyarakat setempat
merasakan dirinya tergantung pada komunitas yang meliputi kebutuhan fisik
maupun biologis.
Untuk mengklasifikasikan masyarakat setempat, dapat
digunakan empat kriteria yang saling berhubungan, yaitu:
-
Jumlah penduduk
-
Luas, kekayaan, dan
kepadatan penduduk
-
Fungsi-fungsi khusus
masyarakat setempat terhadap seluruh masyarakat
-
Organisasi masyarakat
yang bersangkutan
G.
Dinamika Kelompok
Pada umumnya setiap kelompok sosial
mengalami suatu perkembangan bahkan perubahan, sebagai akibat dari proses
formasi atau reformasi dari pola-pola dalam suatu kelomok karena adanya
pengaruh dari luar. Perubahan terjadi karena adanya konflik antar individu
dalam kelompok atau karena adanya konflik antar bagian kelompok sebagai akibat
tidak adanya keseimbangan antara kekuatan-kekuatan dari dalam kelompok itu
sendiri. Dalam dinamika kelompok terjadi suatu perubahan kelompok. Perubahan
yang terjadi ada yang mempengaruhi strukur ada juga yang tidak mempengaruhi struktur
masyarakat.
Perubahan struktur terjadi dalam
suatu masyarakat karena adanya pergantian anggota, perubahan sitruasi, serta
terjadi depresi disuatu bidang ekonomi dan sosial. Konflik antar kelompok
terjadi karena adanya persaingan. Masalah dinamika kelompok berkaitan dengan
gerak atau perilaku kolektif. Gejala tersebut merupakan suatu cara berpikir,
merasa, dan beraksi suatu kolektivitas yang serta merta tidak berstruktur.
Sebab-sebab suatu kolektiva menjadi agresif antara lain adalah
1. Frustasi jangka panjang
2. Tersinggung
3. Dirugikan
4. Ada ancaman dari luar
5. Diperlakukan tidak adil
6. Terkena pada bidang kehidupan yang sensitif
Kegunaan dari mempelajari ciri-ciri kelompok
dalam uraian sebelumnya adalah untuk menelaah kelompok sosial masyarakat
terutama dalam suatu masyarakat yang terlalu banyak menonjolkan salah satu
jenis kelompok dalam kehidupan bersama, sehingga kehidupan bersama tidak lagi
dirasakan berjalan secara harmonis, misal di Indonesia sering dijumpai adanya
hubungan pekerjaan dalam lingkungan jabatan atau organisasi yang pada dasarnya
bersifat hubungan sekunder, tetapi kurang dapat penyelesaian yang baik karena
masih sering dirongrong oleh pertimbangan-pertimbangan yang bersifat primer
yang berkaitan dengan keluarga atau daerah sehingga menimbulkan dinamika sosial
ke arah reformasi agar warga diperlakukan adil dalam penyeleksian. Kegunaan
mempelajari dinamika sosial adalah kita dapat mempelajari interaksi dalam
kelompok sosial dan pemecahan permasalahan serta mengambil kesimpulan untuk
mencapai pemahaman dan penanggulangan masalah-masalah kelompok sosial.
H.
Faktor Pembentukan Kelompok Sosial
Bergabung dengan sebuah kelompok
merupakan sesuatu yang murni dari diri sendiri atau juga secara kebetulan.
Misalnya, seseorang terlahir dalam keluarga tertentu. Namun, ada juga yang
merupakan sebuah pilihan. Dua faktor utama yang tampaknya mengarahkan pilihan
tersebut adalah kedekatan dan kesamaan.
1.
Kedekatan
Pengaruh tingkat kedekatan,
atau kedekatan geografis, terhadap keterlibatan seseorang dalam sebuah kelompok
tidak bisa diukur. Kita membentuk kelompok bermain dengan orang-orang di
sekitar kita. Kita bergabung dengan kelompok kegiatan sosial lokal. Kelompok
tersusun atas individu-individu yang saling berinteraksi. Semakin dekat jarak
geografis antara dua orang, semakin mungkin mereka saling melihat, berbicara,
dan bersosialisasi. Singkatnya, kedekatan fisik meningkatkan peluang interaksi
dan bentuk kegiatan bersama yang memungkinkan terbentuknya kelompok sosial.
Jadi, kedekatan menumbuhkan interaksi, yang memainkan peranan penting terhadap
terbentuknya kelompok pertemanan.
2.
Kesamaan
Pembentukan
kelompok sosial tidak hanya tergantung pada kedekatan fisik, tetapi juga
kesamaan di antara anggota-anggotanya. Sudah menjadi kebiasaan, orang lebih
suka berhubungan dengan orang yang memiliki kesamaan dengan dirinya. Kesamaan
yang dimaksud adalah kesamaan minat, kepercayaan, nilai, usia, tingkat
intelejensi, atau karakter-karakter personal lain. Kesamaan juga merupakan
faktor utama dalam memilih calon pasangan untuk membentuk kelompok sosial yang
disebut keluarga.
BAB III
PENUTUP
PENUTUP
A.
Kesimpulan
1.
Arti penting hidup berkelompok dalam kelompok sosial bahwa
hidup berkelompok pada kelompok sosial sangat penting untuk mempermudah dalam
memenuhi kebutuhan hidup. Manusia akan memerlukan bantuan orang lain dalam
menjalani kehidupan sosial.
2.
Ciri-ciri kelompok sosial ada beberapa, yaitu satuan yang
nyata dan dapat dibedakan dari kesatuan manusia yang lain, memiliki struktur
sosial yang setiap anggotanya memiliki status dan peran tertentu, memiliki
norma-norma yang mengatur di antara hubungan para anggotanya, memiliki
kepentingan bersama, dan adanya interaksi dan komunikasi diantara para
anggotanya.
B.
Saran
Adanya rasa sepenanggungan sesama anggota kelompok
patut diimbangi dengan keterbukaan terhadap kelompok lain agar nantinya kita
tidak akan bersifat terlalu fanatik pada kelompok sosial sendiri.
DAFTAR PUSTAKA
Ø Mulyadi, Tedi,
2016.”Pengertian In Group dan Out Group”.
11 maret 2016. http://www.sridianti.com/pengertian-in-group-dan-out-group.html
Ø Prastya,
Widyasari, 2012. “Membership Group dan Reference Group”. 3 Desember 2012. http://widyasemua.blogspot.co.id/2012/12/membership-group-dan-reference-group.html
Tidak ada komentar:
Posting Komentar